BIDADARI EDISI SPESIAL UNTUK MANUISA ISTIMEWA
Januari 21, 2008
Kita pasti sudah mengenal seorang tokoh sahabat Rasul yang bernama Umar bin khathab, Salah satu sahabat Rasul yang terkenal akan keshalihannya dan kewara` annya. Semenjak beliau memeluk islam kaum muslimin seakan memperoleh sebuah kekuatan baru yang sangat besar. Hal ini sebagai buah atas dikabulkannya doa sang idola, Rasulullah SAW tercinta. “Ya Allah muliakanlah islam dengan masuknya salah satu dari dua Umar.” Yakni Umar bin khathab dan Amr bin Hisyam atau dikenal sebagai Abu Jahal.
Sejak saat itulah, Kaum muslimin yang baru sedikit itu berani shalat dan thawaf di ka`bah secara terang-terangan. Umar adalah salah satu sahabat Rasul yang sangat wara`, sangat teliti, hati-hati terhadap dosa-dosa kecil. Ia sangat takut masuk neraka, saking takutnya tiap kali melantunkan ayat-ayat AlQuran ia sering menangis atau tatkala hanya mendengarkan ayat-ayat AlQuran.Banyak kata-kata umar yang dikuatkan dan diabadikan didalam AlQuran. Umar mempelajari surah Al Baqarah selama 10 tahun, ia kemudian melapor ke Rasulullah SAW.
“Wahai Rasulullah SAW apakah kehidupanku sudah mencerminkan surah Al Baqarah? Apabila belum, maka aku tidak akan melanjutkan ke surah berikutnya.” Rasulullah menjawab, “sudah..!”
Subhanallah, seorang umar mempelajari surah Albaqarah selama 10 tahun dan tak akan beranjak dari surah tersebut sebelum terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari, kita dimana ya? Mungkin mempelajari al-ikhlas saja untuk kemudian diimplementasi ke kehidupan sehari-hari mungkin belum juga tammat. Begitu wara`nya umar akan kehidupan sehari-hari pantas kalau Allah sering mengabadikan buah pikirannya dalam Alquran seperti mengenai pengharaman arak, ayat mengenai hijab, ayat tentang tawanan perang, seputar penciptaan manusia, demikian juga beberapa ayat AlQuran lainnya.
Rasulullah SAW sering menceritakan kepada para sahabatnya mengenai perjalananya, Mi`raj beliau menghadap Allah SWT, Beliau sering menceritakan bagaimana keadaan surga kepada sahabat-sahabatnya.Suatu hari ketika Rasulullah diMi`rajkan malaikat Jibril memperlihatkan kepada beliau taman-taman surga. Ketika itu Rasulullah melihat ada sekumpulan bidadari-bidadari yang sedang bercengkerama. Ada seorang bidadari yang begitu berbeda dari yang lainnya. Bidadari itu menyendiri dan tampak pemalu. Rasulullah bertanya kepada Jibril,”Wahai Jibril bidadari siapakah itu?” Malaikat Jibril menjawab.
“Bidadari itu adalah diperuntukkan bagi sahabatmu, Umar r.a. Pernah suatu hari ia membayangkan tentang surga yang engkau ceritakan keindahannya. Ia menginginkan untuknya seorang bidadari yang berbeda dari bidadari lainnya. Bidadari yang diinginkannya itu berkulit hitam manis, dahinya tinggi, bagian atas matanya berwarna merah, dan bagian bawah matanya berwarna biru serta memiliki sifat yang sangat pemalu. Karena sahabatmu itu selalu memenuhi kehendak Allah SWT, maka saat itu juga Allah SWT menjadikan seorang bidadari untuknya sesuai dengan apa yang dikehendakinya.”
Subhanallah, begitulah bidadari special yang hanya diperuntukkan untuk umar, seorang sahabat yang sangat ditakuti setan, beda dengan kita, tiadk ditakuti setan, tetapi barangkali malah lebih disenangi setan, Na`udzubillah.
Hadiah special hanya untuk manusia istimewa, itulah prinsipnya. Begitupun bagi Allah itupun berlaku bagi kita, bagaimana sedapat mungkin kita menjadikan diri ini seistimewa mungkin dihadapan Allah maka jangan kaget kalau suatu saat ada hadiah special untuk kita, ataua bahkan hadiah special itu sekarang sedang menunggu kita untuk kita jemput
Maka bagaimana kita menjadikan istimewa dalam kehidupan ini, mau contoh manusia istimewa lagi? Bilal bin Rabah adalah salah satu manusia istimewa itu, terkenal bahwa terompahnya terdengar di surga. Apa amalan istimewanya? Rahasia bilal ini sangat sederhana bahkan kita mampu menirunya, bilal merutinkan diri selalu suci dengan menjaga wudhu`nya kemudian shalat dua rakaat sesudahnya. Sederhana kan disamping ibadah wajib bilal dihantarkan kesurga dan menjadi orang terkenal disana berkat amalan rutinnya yang mungkin hanya sepele. Namun dengan amalan sepele ini bilal menjadi “manusia istimewa”
Kemudian ada Ummu Salamah, siapakah Ummu Salamah? Ia dikenal sebagai wanita pemberani yang terkenal dengan “mahar istimewanya” yaitu keislaman Abu Thalhah. Itu bukan berarti dia jual mahal lho. Tetapi dialah wanita yang termahal maharnya, maka surgapun balasannya, sebab orang yang bisa menghargai dirinya, maka dia bisa menempatkan dirinya dan mendapatkan penghargaan dari sesamanya.
Satu lagi kisah yang benar-benar membiat iri, sebagai seoarng suami yaitu kisah Hanzhallah. Ia satu-satunya sahabat yang dimandikan oleh malaikat, Bayngkan malaikat yang memandikan jenazahnya. Tak tanggung-tanggung sehingga beliau digelari “ghazihul malaikah”. Apa rahasianya? Dia sangat sensitive terhadap seruan jihad. Ia menyambut seruan Nabi di medan tempur padahal ia baru saja membahagiakan istrinya dan belum sempat mandi…ehmm..ehmm…nah sebagaisalah satu “manusia istimewa” dia mendapat hadiah dimandikan khusus oleh para malaikat.
Sanggup ndak ya mencontoh Handzallah, habis mabit ( malam bersama istri tercinta) paginya langsung berangkat jihad atau minimal mukhoyam atau latsar. Wih…peluang luar biasa….
MerEka hanya beberapa sahabat yang digelari “manusia istimewa” sehingga mendapat hadiah khusus parcel istimewa pula dari Allah. Masih banyak sahabat lain dengan rahsianya mampu menjadi “manusia istimewa”. Semoga dengan banyaknya contoh kita akan mengikuti jejak mereka untuk merintis jalan menjadi manusia istimewa itu amiin.
Cinta diatas cinta
Januari 21, 2008
Pernahkah engkau merasa mencintai lawan jenismu padahal dia masih belum menjadi muhrimmu? Bagi kalangan ikhwah dan atau yang telah tertarbiyah ini merupakan hal yang amat sangat dihindari, karena satu pintu zina bila telah terbuka maka pintu zina yang lain akan terbuka. Karena zina sesungguhnya adalah dimulai dari hati. Namun apa daya saat khitbahku ditolak namun sudah kudekap impian tuk segera memulai mahligai indah itu berdua. Dan ketika telah kumantabkan pilihan pada salah satu calon ustadzah rumahku kelak.namun ku bertepuk sebelah tangan. Kecewa sedih mungkin terselip namun Allah Maha Tahu akan keadaan hambanya karena Allah sudah memberikan batasannya.
“Dan hendaklah menjaga kesucian dirinya, orang-orang yang belum mampu menikah, hingga Allah mengayakan mereka dari karuniaNYA.” (An Nur : 33)
Namun apa hendak dikata hati ini bergemuruh walau kucoba tuk mengekangnya. Karena segumpal daging ini manusia bisa rusak dank arena segumpal daging ini manusia bisa mulia, namun keingin hati adalah peperangan antara iman dan nafsu maka kucoba tuk memenangkan iman dengan akal jernih dan muhasabah. Sehingga apa yang dikumandangkan hati sanggup ku control
Tetapi rasa yang tumbuh dalam hati saat khitbah itu ditolak adalah karuniaNYA, maka kucoba tuk tidak membunuhnya dan kusimpan rasa itu,
“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingininya (syahwat) dari wanita-wanita, anak-anak, dan harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, ternak dan sawah ladang….” (Ali Imran : 14)
Maka tak seharusnya kubunuh rasa ini walau tak sampai api pada sumbunya.
Mendapat suri tauladan indah dari seorang laki-laki mulia Bani Umayyah, Umar ibn Abdul Aziz r.a. Sebuah oenggal dari kehidupannya yang menceritakan betapa cintanya tak pernah kandas pada seorang wanita yang bukan menjadi istrinya. Pernah juga kisah ini diceritakan oleh ust Anis Matta dalam serial kepahlawanannya. Namun tak salah bila kuulangi kisah ini menggambarkan betapa cinta itu karuniaNYA dan tak akan pernah kandas.
Bermula dari seorang laki-laki ‘borju’ tetapi alim yang harus menunda shalat berjamaahnya hanya karena masih menyisir rambut. Kisah perbaikan diri seorang manusia yang hanya berlangsung dua tahun lima bulan saja. Dan ia berhasil menggelar kemakmuran, kejayaan dan nuansa kehidupan ala Khulafaur Rasyidin.
Ada pernah suatu ketika Umar ibn Abdul aziz jatuh hati pada seorang gadis. Hanya, Fathimah binti Abdul Malik, putri sang paman yang saat itu mendampingi hari-harinya sebagai isteri belum mengijinkan Umar menikahi gadis itu. Cinta itu tetap ada, dan menyala, meski api belum betemu sumbunya. Sepeninggal keinginannya itu puncak pengorbanan pada diri umar menghampiri dimuali dari fisik yang anjlok, tanpa istirahat, tanpa gizi memadai, tanpa jeda tuk sekedar tertawa dihabiskannya hari-harinya untuk kejayaan umat, rakyat yang dipimpinnya dan negerinya yang elok rupawan.
Seperti jawaban Muzahim, budak sekaligus perdana menterinya saat umar bertanya, “bagaimana kondisi kaum muslimin pagi ini?”. Muzahim tersenyum .”Semua kaum muslimin dalam kondisi sangat baik wahai amirul mu`minin…, kecuali saya, anda, dan baghal tunggangan anda ini!”, begitu katanya.
Kemudian di tumpukan laktat perjuangannya Fathimah yang merindukan senyum di wajah umar datang membawa gadis itu untuk dinikahi umar. Ya, gadis itu, gadis yang sangat dicintainya dulu, begitupun sebaliknya. Nyala cinta itu berbinar, merajut kembali sumbu harapan, membirukan warna romantika dikelelahan warna hatinya. Tetapi cinta semasa dan cinta besar perubahan bertemu atau bertarung. Dan disini dipelataran hati sang khalifah ajaib, Umar justru menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.
Tak ada cinta yang mati disini, karena sebelum meninggalkan kediaman Umar, gadis itu bertanya sendu,” Umar, dulu kau pernah sangat mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?”
Umar bergetar haru, ada sesak didadanya, “ Cinta itu masih ada….” ia menjawab. “ bahkan kini rasanya jauh lebih dalam…”
Cinta Umar adalah cinta diatas cinta, bukan cinta yang kandas oleh kehinaan seorang hamba.Cinta itu lebih besar namun bersarang didada yang lebih lapang pula. Untuk yang telah kubaca data dirinya semoga penolakanmu adalah karena cintamu lebih besar, dan cintamu adalah cinta diatas cinta.
-ref : ABCP by salim a. fillah-
Jilbab dan Budaya
Januari 17, 2008
Jilbab adalah istilah untuk pakaian wanita sejenis baju kurung yang menutupi seluruh tubuh terkecuali wajah dan telapak tangan. Jilbab juga disinggung dalah al-Qur’an, yaitu dalam Surat al-Ahzaab ayat 59, artinya : “Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu dan kepada anak-anak perempuanmu serta kepada isteri-isteri orang-orang mu’min : “hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu”.
Termasuk ajaran agama dan etika Islam adalah berpakaian islami. Cara berpakaian seorang wanita terbagi dalam berbagai kondisi, yaitu ketika salat, ketika ihram, dan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika salat seorang wanita harus menutupi seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan, demikian juga ketika dalam keadaan Ihram, hanya disini diwajibkan kepadanya untuk tidak menutup muka dan kedua telapak tangannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di tempat publik, menurut Jumhur (mayoritas) ulama (Hanafi, Maliki dan Syafi’i) wanita wajib menutup seluruh badannya kecuali muka dan kedua telapak tangan. Pendapat ini dilandaskan kepada al-Qur’an surat an-Nur ayat 31 : “Dan hendaknya mereka (kaum muslimat) menurunkan kerudung mereka hingga menutupi kerah baju mereka ke dadanya”. Ayat ini menunjukkan kewajiban menutup kepala, kecuali dalam lingkungan keluarganya sendiri. Ayat ini diperkuat oleh sebuah hadist riwayat Abu Dawud: Nabi berkata kepada Asma (puri Sahabat Abu Bakar) “Hai Asma, kalau wanita telah kedatangan haid (telah masuk masa haid), maka tidaklah layak dirinya untuk dilihat, kecuali ini dan ini”, sembari menunjuk muka dan kedua telapak tangan.
Hanya mazhab Hanbaliyah mengatakan bahwa wanita harus menutup seluruh badannya di depan publik.
Jadi berpakaian Islami dalam ajaran agama Islam adalah setingkat lebih khusus dibandingkan dengan hanya sekedar berpakaian dan mempunyai muatan etis agamis tersendiri. Dengan demikian berpakaian islami sesuai aturan al-Qur’an dan hadist lebih merupakan ajaran agama, daripada sekedar bias budaya ataupun iklim. Dalam kata lain, menutup kepala bagi seorang muslimah merupakan ajaran dan etika agama, sedangkan menghindari image negatif di mata publik atau menghindari fitnah dan keinginan tidak baik laki-laki adalah hikmah atau manfaat dari cara berpakaian islami itu sendiri.
Permasalahan agama bisa menjadi rumit dan komplek kalau kita mengkaitkan ajaran agama dengan pengaruh budaya dan iklim, karena pada ujungnya kita akan terseret kepada ketentuan yang serba tidak jelas. Sebuah ilustrasi mungkin di sini bisa dikemukakan: masyarakat suku Asmat di Irian, sesuai budaya mereka, berpakaian etis mungkin hanya cukup menutup bagian minim dari tubuh, baik untuk wanita maupun laki-laki. Begitu juga ukuran yang tidak menyebabkan fitnah dalam budaya mereka juga cukup demikian. Seandainya kita mengkaitkan ajaran agama Islam dengan budaya dan iklim, tentu kita akan bisa berpendapat bahwa untuk muslimah Asmat dalam berpakaian boleh saja seperti itu karena alasan budaya dan iklim. Tentu ini kurang tepat menurut logika keagamaan kita.
Kalau permasalahannya adalah rambut rontok, gatal-gatal, bau badan dll, tentu tidak bisa digunakan sebagai ukuran dalam agama, karena itu semua lebih bersifat personal dan berbeda dari satu orang ke orang yang lain. Begitu juga masalah rasa kurang praktis dalam berjilbab, itu sangat kondisional. Adapun Iman dan taqwa seseorang, tentu tergantung kepada sejauh mana seseorang menegakkan ajaran agamanya.
Satu hal yang patut kita garis bawahi dalam masalah busana muslimah, khususnya bagi mereka yang hidup di masyarakat yang sekuler adalah membedakan antara esensi ajaran agama dan realitas kehidupan yang kita hadapi. Dalil dan ajaran yang mewajibkan berpakaian sesuai dengan al-Qur’an dan hadist, sudah cukup jelas maksudnya. Itulah ajaran agama kita yang harus kita laksanakan. Dan kita harus tanamkan dalam hati kita bahwa itulah tanggung jawab kita untuk menegakkannya, dimulai dari diri kita. Namun, terkadang kondisi sosial, lingkungan kerja, tuntutan karier, dll yang menyebabkan seorang muslimah tidak atau belum mampu melaksanakan ajaran berbusana muslimah.
Bila seorang muslimah dalam kondisi demikian mampu untuk berbusana muslimah, berjilbab dengan konsisten, tentu ini adalah hal terpuji menurut agama. Akan tetapi bila kondisi-kondisi tadi masih belum atau tidak memungkinkannya untuk segera berbusana muslimah, hendaknya seorang muslimah tetap menanamkan dalam hatinya niat baik bahwa suatu saat ia akan segera berbusana muslimah manakala situasi dan kondisi telah memungkinkannya. Karena itulah sebenarnya ajaran agama kita.
Mudah-mudahan uraian di atas bermanfaat. Wallahu A’lam.
asinkah garam itu?
Desember 5, 2007
Tahu dari mana datangnya rasa asin pada garam? Atau manis pada gula? Einstein mengatakan tiada pertanyaan yang tiada jawabnya kecuali jelas pertanyaan dia sendiri yang diklaim belum ada jawabannya sampai sekarang, yaitu lebih dulu mana tercipta didunia antara telur dan ayam. Dan dalam edisi khusus Alquran juga disebutkan tiada pertanyaan yang taka da jawabannya kecuali ruh. Namun disini saya bukan bermaksud menantang Alquran atas pertanyaan itu. Hanya saja pertanyaan itu bila dilontarkan akan mendapat berbagai reaksi yang berbeda.
Bila pertanyaan itu dilontarkan keseorang guru filsafat maka akan didapat jawaban, “itu immanent”. Dan seorang ustadz akan menjawab, “itu termasuk qadha` dan qadar”. Lain lagi bila pelawak ludruk yang menjawabnya, “ lha kalau manis hanya keringat ketiakmu, siapa yang mau minum teh manis?” persis seperti ketika mereka menjawab kenapa hidung diciptakan diletakkan dibawah mata, “lha kalau diletakkan dibagian belakang diantara pinggul, kan…….”
Adapun kata sahibul hikayat, tak hanya gula yang manis, namun gula pasti manis.tak hanya garam yang asin, namun garam pasti asin. Kalau kata sastrawan kita berujar,”itu mistis, gula itu kok manis, ya mbok sekali-kali gula itu asin, atau garam yang manis..”
Bisa saja kita bikin konversi baru dengan meletakkan kata manis untuk rasa asin dan kata asin untuk rasa manis. Atau kata gula untuk mendeskripsikan garam dan kata garam untuk mendeskripsikan gula. Namun rasa yang dikecap hakikatnya akan tetap manis dan asin tidak akan berubah.
Sampai disini ilmu pengetahuan mandeg,pertanyaan itu tak terjawab seperti halnya ilmu tauhid yang akan mandeg abgi akal manusia dan behenti di makna wara` wal bala`. Mandeg dibatas bulu kelinci dalam perjalanan jostein gaardner mencari hakikat Tuhan.
Asin dan manis tidak bisa direport, asin dan manis tidak bisa diinformasikan, diartikulir ataupun diterjenmahkan. Orang yang pernah mengalami rasa asin akan tahu seperti apa rasa asin tanpa harus menjawab pertanyaan diatas begitupun yang pernah mengalami rasa asin tidak perlu mendeskripsikan seperti apa rasa manis. Mereka sudah mengetahui rasanya sudah mengecap rasanya.
Seseorang yang hampa lidahnya tidak akan bisa memberitahuakn seperti apa rasa manis dan asin. Ia harus mengalaminya sendiri. Dan bagiku memperdebatkan rasa asin dengan orang yang tidak pernah mengecap rasa asin adalah sia-sia. Intinya Tauhid itu hanya perlu dirasa.maka akan tahu esensinya.
Memory waktu, 5 des 2007
Entah darimana saya dapat ide gila ini.mungkin agar bertambah satu lagi orang gila yang akan menjawab darimana rasa asin dan manis itu.
Hello world!
Desember 4, 2007
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!